Goenawan Mhamad Membela Joko Widodo dari Kritikan Jurnalis Asing

Salah satu artikel yang berjudul Widodo’s Smoke and Mirrors Hide Hard Truths menggegerkan dunia. Artikel yang dipublikasikan media Togel Online asing di mana basisnya di Hong Kong yakni Asia Times pada tanggal 23 Januari tersebut menjadi perbincangan hangat belakangan ini di kalangan warganet Indonesia.

Tak Sejalan dengan Klaim Jokowi

Artikel yang mana ditulis oleh seseorang bernama John McBeth itu pasalnya menyoroti Presiden Jokowi dan juga para pembantunya yang mana disebutkan oleh McBeth sudah menjadi master atau ahli sebagai orang yang menjalankan permainan asap dan cermin (smoke dan mirror) yang mana diadopsi dari trik yang banyak digunakan oleh para pesulap.

Bentuk yang sederhana dari permainan asap dan juga cermin ini, menurut McBeth adalah untuk meyakinkan khalayak semua bahwa sesuatu emang benar-benar telah terjadi atau berhasil dicapai walau pada kenyataannya hal itu tidak lah terjadi atau tidak tercapai.

Baginya, upaya untuk mengaburkan fakta oleh Jokowi ini lah yang tampak makin jelas seiring dengan mendekatnya pelaksanaan pemilu Presiden pada tahun 2019. Lantas McBeth juga memaparkan beberapa proyek atau klaim pencapaian Presiden Jokowi yang disebutnya tak sesuai dengan kenyataan. Misalnya saja terkait dengan negosiasi dengan PT Freeport, klaim pemerintah tentang swasembada pangan dan juga proyek kereta api cepat rute Jakarta-Bandung.

Klaim yang Tidak Luar Biasa

Tentang negosiasi dengan PT Freeport misalnya, McBeth di artikel tersebut menuliskan bahwa keberhasilan pemerintah memaksa PT Freeport mendivestasikan 51% dari saham anak perusahaanya di PT Freeport Indonesia. dan pencapaian ini menurutnya bukanlah hal yang sangat luar biasa. Lantas ia kemudian merujuk pada fakta bahwasanya di tengah-tengah keberhasilan tersebut masih ada beberapa persoalan seperti valuasi nilai saham dari PT Freeport Indonesia dan juga peralihan manajemen yang mana belum diselesaikan.

Sementara soal klaim swasembada pangan seperti misalnya daging sapi, jagung, gula, kedelai, beras, McBeth menyoroti bahwa klaim pemerintah ini berhasil menurunkan proporsi impor daging sapi pada total konsumsi turun dari yang tadinya 31% menjadi 24% di tahun 2015.

Pencapaian itu ia soroti karena tidak menyertakan fakta bahwasanya orang Indonesia Cuma makan 2,7 kg per tahunnya yang merupakan tingkat per kapita paling rendah di ASEAN. Ditambah lagi dengan meningkatnya kembali proporsi impor daging sapi jadi 32% di tahun 2016 dan 41% di tahun 2017.

Pembelaan Goenawan Mohamad

Menanggapi artikel ini, Goenawan Mohamad di akun facebook miliknya menulis bahwa tulisan pendek McBeth tersebut hanyalah akan memicu kehebohan karena bisa digunakan oleh lawan dan juga musuh politiknya Jokowi untuk bisa menyerang dan juga direspons dengan kurang tepat oleh pendukung-pendukung Jokowi. Kehebohan tersebut sebenarnya tak perlu terjadi.

“Pertama, sudah bisa diperhitungkan bahwa lawan Pak Jokowi akan memanfaatkan tulisan itu dan sebaliknya pendukung bakal marah. Dalam politik, dan menjelang pemilihan umum, itu sangat lumrah,” tulis salah satu pendiri TEMPO tersebut.

Alasan yang lainnya adalah materi tulisan McBeth itu bukan lah informasi yang baru. Ia mengatakan bahwa kasus-kasus yang ditulis oleh McBeth itu sebenarnya tidak juga luput dari tulisan media-media Indonesia juga. Tulisan McBeth itu disebutnya bukan lah hasil investigasi dengan kerja keras. “Siapa saja yang membaca TEMPO (saya perkirakan McBeth jug abaca) bisa menemukannya dan bisa mengutipnya. Dan sembari duduk minum bir di rumah juga dapat menyiarkannya lagi,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *