Konferensi Iklim COP24 Katowice

Konferensi Iklim COP24 Di Katowice

Konferensi Iklim COP24 Katowice, Pembahasan yang dilakukan mengenai tuntutan negara-negara yang terancam mengalami perubahan iklim  terhadap negara industri di KTT perubahan iklim 24 (COP24) di Katowice.

Polandia. negara-negara yang berisiko mengalami pemanasan global yakni Fuji, Nepal, dan Nigeria yang menuntut janji yang telah diadakan pada iklim Paris tahun 2015.

Indonesia mengirimkan delegasi yang diwakili oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yaitu Siti Nurbaya.

Konferensi Iklim COP24 KatowicePermasalahan pendanaan

Perjanjian iklim di Paris telah menyetujui batas suhu di bawah dua derajat celsius, sebisa mungkin di bawah 1,5 derajat celsius.

Hal ini awal mula yang menjadi permasalahan, siapa yang akan mendanai langkah-langkah pencegahan perubahan iklim yang semakin parah?. Katowice.

Polandia dikenal sebagai salah satu penambang batu bara. Konferensi ini dihadiri delegasi oleh 200 negara selama 2 minggu melakukan upaya negosiasi untuk langkah-langkah konkret menangani masalah tersebut.

Kesepakatan Iklim Paris sebelumnya sepakat bahwa negara-negara industri kaya memberikan dana ke dalam kas bersama atas tanggung jawab sebagian emisi rumah kaca yang dihasilkan.

Konferensi Iklim COP24 Katowice Menjadi Ekonomi Lebih Hijau

Dana ini berguna bagi negara berkembang terdampak untuk menjadikan ekonomi lebih hijau. Bank Dunia telah menganggarkan dana mencapai 200 miliar dolar AS untuk menghadapi iklim pada tahun 2021-2025.

Hal ini dilakukan untuk mendukung program penghijaun yang dilakukan oleh negara-negara.

Tetapi, dibayangi oleh negara Amerika yang berencana untuk mundur dari kesepakatan iklim di Paris. Apalagi sekarang bumi dilanda bencana yang hebat. Mulai dari kebakaran, badai, dsb.

Para ahli iklim PBB bulan November sudah memperingatkan mengenai perubahan iklim yang akan terjadi. Target untuk mencapai 1,5 derajat celsius hingga abad ini.

Langkah yang dapat dilakukan untuk mencapainya dengan menenkan emisis dari bahan bakar setengah penggunaan dari semestinya pada tahun 2030.

Polandia sebagai salah satu negara yang masih bergantung pada batu bara, mengingingkan untuk pembahasan masalah perekonomian ini tetap dibahas.

Polandia mengharapkan setelah deklarasi sedikitnya ada seruan mengenai tantangan yang harus dikenal oleh wilayah kota maupun daerah transisi dari bahan bakar fosil. Terutama untuk memastikan masa depan bagi para pekerja untuk lebih layak bagi daerah transisi.

Maria Espinosa, Ketua Majelis Umum PBB, menuturkan bahwa kurang tepat jika pilihan antara iklim atau pekerjaan.

Dia menjelaskan bahwa manusia seharusnya bisa beradaptasi, apabila tidak memahami dengan baik maka muncul masalah yang cukup besar, karena kini yang dipertaruhkan kelangsungan hidup manusia dan bumi sendiri.

Konferensi Iklim COP24 Katowice Salah Satunya Paviliun Indonesia 

Indonesia turut meramaikan konferensi iklim di Katowice dengan pembukaan paviliun yang berisi oranmen khas Bali yang sudah dikenal di kancah Internasional.

Paviliun Indonesia terletak di area E International CongressnCentre dan Spodek Arena. Partisipasi dari Indonesia diharapkan mampu mendukung negosiasi yang sedang berlangsung di konferensi ini.

Paviliun Indonesia diresmikan langsung oleh Siti Nurbaya Sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, diharapkan dengan paviliun ini bisa bertukar gagasan untuk membantu menangani konvensi perubahan iklim yang akan terjadi.

Paviliun Indonesia mengusung tema “Climate Change, Society Change: Let’s Work-Up and Team-Up. Tema ini sejalan dengan KTT Iklim COP24 “Changing Together”.

Pemilihan tema ini memberikan seruan bahwa untuk menghadapi perubahan iklim tidak bisa dilakukan individu, melainkan harus dihadapi bersama-sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *