Anthony Ginting: Bakat Dan Kerja Keras Sama Pentingnya

Pebulutangkis Anthony Ginting menorehkan prestasi yang cukup luar biasa dengan pencapaiannya ke final sebanyak dua kali serta seluruhnya berakhir dengan gelar juara. Raihan tersebut membuat namanya terdaftar dalam 10 besar dunia yang sejajar dengan pemain elit mancanegara.

 

Ia semakin populer sejak memenangkan turnamen besar  pertamanya, terutama karena sikapnya yang  tenang. Ia sangat jarang berteriak baik untuk dirinya sendiri atau coach. Alih-alih mempertanyakan keputusan wasit di lapangan, Anthony juga tipe pemain yang memilih diam saja. Ia mengaku bahwa alasannya adalah ia hanya ingin focus.

 

Siapa yang tahu dibalik sikapnya yang cool, Anthony ternya berkarakter jenaka. Buktinya ia kerap memperkenalkan dirinya sebagai orang keturunan Jepang. Tentu saja ini hanya bercanda, apalagi tampilan fisiknya sangat Indonesia, dengan kulit sawo matang dan mata yang besar. Ini karena nama tengahnya adalah Sinisuka yang sesungguhnya adalah nama marga.

 

Terlepas dari candaannya tersebut, faktanya baru-baru ini ia sukses menundukkan atlet Jepang pada final Indonesia Masters. Atlet Jepang tersebut, Kazumasa Sakai berada pada peringkat 17 dunia. Anthony menunjukkan performa cemerlang dengan berulang kali menempatkan kok tipis di atas net yang membuat Kazumasa keteteran. Pencapaian tersebut membuka peluang besar untuk menempatkannya pada ranking 10 dunia pasca menjuarai pertandingan tersebut.

 

Dalam dua tahun terakhir ini penampilan Anthony memang dinilai sangat bagus, terlebih di tahun lalu di juga sukses mendapat satu sekaligus satu-satunya gelar pada ajang super series Korea Utara. Sebelum mengalahkan Jonatan Christie di laga penutup, ia menundukkan unggulan pertama Son Wan Ho pada empat besar.

 

Prestasi Athony pun memicu perdebatan, apakah ia orangnya yang akan menjadi atlet masa depan tunggal putra? Meskipun demikian banyak orang mulai berharap kepadanya karena pada  sector tersebut dirasa jumlah pemain berbakat telah berkurang. Berikut ini  adalah ulasan tentang wawancara yang pernah dilakukan kepada Anthony Ginting.

 

Menurut Anthony gelar Indonesia Masters yang diperolehnya bukanlah jawabah atas kritik Taufik Hidayat berkaitan dengan sector tunggal putra yang semakin kekurangan pemain Togel Online cemerlang. Tetapi ia juga setuju bila kritik tersebut menjadi salah satu motivasinya.

 

Saat diminta pendapatnya tentang permintaan Taufik Hidayat kepada PBSI untuk merombak pemain tunggal pada pelatnas, dengan kalem Anthony menjawab bahwa ia tak pernah mengetahui hal itu dan hanya berupaya untuk memberikan yang terbaik di lapangan.

 

Anthony sendiri mengaku bahwa ia tak pernah mendapatkan mentoring atau coaching dari Taufik tetapi ia memang mengidolakan peraih medali emas Olympiade tersebut. ia juga mengatakan bahwa ia mengimitasi cara Taufik Hidayat memegang raket saat menonton permainannya di televisi.

 

Berkaitan dengan hilangnya panutan pada sector tunggal putra, Anthony justru memiliki pendapat sendiri. Ia mengatakan bahwa beban berat pada sector tersebut berada di pundaknya, Jonatan Christie, serta Ihsan Maulana setelah para senior seperti Sony, Tommy, dan Simon keluar. Bagi Anthony ini artinya mereka harus mengejar para senior untuk  dapat menampilkan performa yang bagus demi menjadi contoh para pemain muda.

 

Anthony melanjutkan bahwa sosok pemain panutan di Pelatnas itu penting, ia mengandaikan bahwa pada sector  dobel sekarang ada Butet, Ahsan, Hendra, dan lainnya. Ia sendiri sering mencari referensi kepada senior tentang pengalaman dan strategi yang pasti berguna untuk menghadapi kompetisi besar. Ia mempunyai prinsip sendiri tentang olahraga yang kini digelutinya, yaitu bakat memang penting dan demikian pula dengan kerja keras yang berguna untuk membentuk mental atlet.

Batal Ke India Open, Tontowi/ Liliyana Fokus All England

Pemain Indonesia di olahraga bulutangkis memang banyak yang sukses menorehkan hasil memuaskan, salah satunya adalah Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang berada di tim ganda campuran. Setelah berlaga di Indonesia Masters 2018, ternyata Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir batal untuk berduel di India Open 2018 BWF World Tour Super 500. Hal itu dilakukan, melihat kondisi Tontowi yang tidak maksimal.

 

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Batal Ke India Open 2018

Seperti yang diketahui, pasangan ini memang tidak berhasil menyabet gelar juara di Indonesia Masters 2018. Mereka harus rela bertekuk lutut di babak final setelah melawan Zheng Siwei/ Huang Yaqiong. Permainan yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, Hari Minggu (28/1/2018) dilakukan selama dua gim, berakhir dengan nilai 14-21 dan 11-21.

 

Sebelumnya, setelah mengikuti kejuaraan Indonesia Master, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir ditargetkan akan diikut sertakan India Open yang akan dilangsungkan pada tanggal 30 Januari sampai 4 Februari di New Delhi. Tapi ternyata, ganda campuran juara dunia ini memilih untuk mengundurkan diri.

 

Berdasarkan pernyataan Richard Mainaky yang merupakan Kepala Pelatih ganda campuran PBSI mengatakan, kalau Tontowi sedang dalam kondisi yang tidak maksimal. Kini, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir akan difokuskan untuk menghadapi All England, tanggal 14 hingga 18 Maret.

 

Sebelum berlaga di Indonesia Masters 2018, Tontowi terlihat sedang dalam periode yang sibuk, selain latihan, dia juga baru dikaruniai anak yang kedua. Hal ini membuat fokusnya terbagi.

 

“Kondisi Tontowi kurang siap. Memang sebelum Indonesia Masters, persiapan dan konsentrasinya sedikit terganggu jelang kelahiran anak keduanya,” ungkap Richard kepada Badmintonindonesia.org.

 

“Jadi kelihatan di final Indonesia Masters kemarin tidak tahan fokus dalam menghadapi tekanan-tekanan dari pasangan Tiongkok (Zheng Siwei/ Huang Yaqiong). Sehingga tidak bisa menjalankan pola Bandar Togel HK dan strategi untuk meredam serangan Zheng dan Huang,” tambahnya.

 

“Semalam Tontowi sendiri yang telepon saya dan sampaikan keraguan untuk tanding dengan kondisi dia yang kurang maksimal. Jadi saya putuskan untuk cancel saja di India Open 2018. Keadaan seperti ini memang tidak bisa dihindari, harus dijalani. Lebih baik mereka persiapkan diri jelang All England,” ujar Richard.

 

Setelah mundurnya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di India Open, di tim ganda campuran hanya ada 3 wakil, yaitu Ricky Karanda Suwardi/ Debby Susanto, Praveen Jordan/ Melati Daeva Oktavianti dan Hafiz Faisal/ Gloria Emanuelle Widjaja. Dengan begitu, Richard pun mengubah target di kejuaraan itu.

 

“Targetnya tetap semaksimal mungkin, minimal lolos ke semifinal dulu,” jelas Richard.

 

Richard Mainaky Ingin Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Juara Asian Games

Pada bulan Februari nanti, akan ada kejuaraan Badminton Asia Team Championship di Malaysia, namun Richard masih menimbang-nimbang keikutsertaan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, setelah mereka batal ikut di India Open 2018.

 

“Saya akan melihat perlu turun atau tidak. Perlu dalam arti jika Tontowi sudah sangat siap dengan kondisi fisiknya segalanya, mungkin saya turunkan karena takut terlalu lama juga menuju All Englandnya. Jika tidak, ya berarti langsung,” beber Richard.

 

“Untuk antisipasi minim turnamen saya tak khawatir karena mereka sangat pengalaman. Saya kan melihat banyak faktor. Kemarin saja hasilnya mereka tak mau kalah. Padahal saya sih enjoy saja, karena yang saya lihat adalah pertandingan-pertandingan penting, yaitu Asian Games, All England pun kalau mau juara ya silahkan, tapi kalau saya punya ambisi Asian Games, karena kita tuan rumah dan PBSI target disana. Saya malah khawatir mereka harus juara disini, disini, malah tidak sampai di peaknya,” tambah Richard.